Jakarta – Aksi Kamisan kembali digelar di depan Istana Negara, Kamis (13/11), bertepatan dengan peringatan 27 tahun Tragedi Semanggi salah satu catatan kelam pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Tokoh muda dan aktivis, Savic Ali, dalam orasinya menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai tidak serius menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu.
“Hari ini tuh memperingati 27 tahun peristiwa Semanggi. Karena memang persis ya, 13 November itu Semanggi terjadi di mana mahasiswa yang sedang turun aksi justru ditembaki secara membabi buta oleh aparat. Banyak yang terluka, dan belasan meninggal,” ujar Savic Ali.
Ia menegaskan bahwa hasil penyelidikan Komnas HAM terkait tragedi itu sudah lama rampung dan diserahkan ke kejaksaan. Namun, hingga kini tidak ada tindak lanjut berarti.
“Komnas HAM sudah melakukan penyelidikan dan memutuskan bahwa itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Tapi masalahnya, kejaksaan tidak memproses. Ini sudah dituntut bertahun-tahun,” lanjutnya.
Savic juga menyinggung minimnya komitmen pemerintahan saat ini dalam penyelesaian pelanggaran HAM. Ia bahkan menilai, harapan publik terhadap pemerintahan sekarang terlalu besar jika dikaitkan dengan isu HAM.
“Saya yakin, karena presidennya sendiri kan juga terlibat kasus pelanggaran HAM. Jadi ini harapan yang terlalu besar kalau kita berharap pada pemerintahan hari ini untuk menyelesaikan masalah HAM,” tegas Savic di tengah massa Aksi Kamisan.
Aksi Kamisan yang telah berlangsung lebih dari 18 tahun tanpa henti ini kembali menjadi simbol perlawanan dan ingatan kolektif terhadap berbagai pelanggaran HAM yang belum tersentuh hukum.

0 Komentar