![]() |
| Mantan Wali Kota Bamban, Alice Guo, saat menghadiri sidang di Senat Manila, Filipina, 25 Juni 2024.(Foto: Senat Filipina via AFP) |
Mantan Wali Kota Bamban di Filipina, Alice Guo, akhirnya menerima vonis pahit: penjara seumur hidup. Putusan itu dijatuhkan Pengadilan Manila sebagaimana dilaporkan Kompas.com, Kamis (20/11/2025). Guo dinyatakan bersalah dalam kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang berkaitan dengan operasi judi online ilegal di wilayah utara Manila. Kompleks judol tersebut diketahui tempat ratusan pekerja asing dipaksa melakukan penipuan online, disertai ancaman kekerasan dan penyiksaan.
Tak hanya tersandung
kejahatan terorganisasi, sosok Alice Guo sejak awal memang dipenuhi misteri.
Latar belakangnya kabur, identitasnya simpang siur, dan posisinya sebagai
pejabat publik membuat publik Filipina bertanya-tanya: siapa sebenarnya Alice
Guo?
Awal Kecurigaan:
Jejak Misterius Sang Wali Kota
Nama Alice Guo melejit
setelah ia menjabat sebagai Wali Kota Bamban, sebuah kota pertanian di utara
Manila. Ia tampil percaya diri, berpakai cerah, sering tersenyum, dan berbicara
Tagalog tanpa aksen. Namun, penampilan itu perlahan runtuh saat penyelidikan
Senat pada Mei 2024 membuka kejanggalan yang tak terjawab.
Jawapan Guo
berputar-putar, tidak konsisten, dan memunculkan dugaan bahwa ia bukan sekadar
pejabat biasa, melainkan agen China yang menyusup ke jabatan publik Filipina.
Ia mengaku sebagai anak di luar nikah dari seorang pria China dan asisten rumah
tangga Filipina, serta menghabiskan masa kecil di peternakan babi di Tarlac.
Namun ketika diminta
menjelaskan perjalanan hidupnya, Guo justru terpeleset: ia tak bisa mengingat
nama sekolahnya, mengatakan akta kelahirannya baru dibuat saat usia 17 tahun,
dan menyebut dirinya besar “di peternakan tersembunyi tanpa teman.” Bahkan nama
“Guo” pun bukan nama lazim untuk keturunan Tionghoa-Filipina.
Sindikat Penipuan
dan TPPO yang Menyeret Guo
Keterlibatan Guo
terkuak setelah polisi Filipina menggerebek kompleks POGO (Philippine Offshore
Gaming Operator) di Bamban pada Maret 2024. Penggerebekan itu dilakukan setelah
seorang pekerja Vietnam berhasil kabur dan melapor ke aparat.
Hasilnya
mencengangkan:
- Hampir 700 korban selamat
- 202 orang adalah warga China
- 73 lainnya warga asing
- Semua dipaksa menjadi “kekasih virtual”
untuk penipuan siber internasional
Kompleks itu berdiri
di atas lahan milik Guo, tepat di belakang kantornya sebagai wali kota. Kendati
Guo mengklaim telah menjual lahan itu, dokumen penyidikan menunjukkan namanya
masih tercatat sebagai presiden perusahaan yang menaungi kompleks tersebut. Lebih
jauh, ia juga tercatat memiliki helikopter dan mobil mewah Ford Expedition,
tetapi kembali berdalih semuanya “sudah dijual”.
Melarikan Diri dan
Ditangkap di Indonesia
Saat penyidikan
semakin menekan, Alice Guo menghilang. Pada 3 September 2024, Departemen
Kehakiman Filipina mengumumkan bahwa ia ditangkap di Indonesia setelah memasuki
wilayah RI pada 18 Agustus 2024. Otoritas imigrasi Indonesia membenarkan bahwa
Guo ditahan oleh tim Jatanras Mabes Polri. “Guo saat ini ditahan oleh Jatanras
Mabes Polri,” — Departemen Kehakiman Filipina (komunikasi resmi kepada PNA)
Presiden Filipina
Ferdinand Marcos Jr sebelumnya telah mencabut paspor Guo dan menyebut
penyelidikannya menjadi prioritas di tengah memanasnya hubungan Manila–Beijing.
Guo kemudian diekstradisi ke Filipina untuk menjalani proses hukum.
Vonis Seumur Hidup:
Titik Akhir Pelarian
Kasus Guo menjadi isu
politik besar di Filipina, terlebih karena dugaan keterkaitannya dengan
jaringan asing di tengah ketegangan dengan China di Laut China Selatan.
Ombudsman Filipina bahkan telah memecatnya pada Agustus 2024 karena pelanggaran
berat. Pada Kamis (20/11/2025), pengadilan akhirnya memberikan putusan final: Alice
Guo divonis penjara seumur hidup.
“Setelah lebih dari
satu tahun, pengadilan menjatuhkan keputusan sah. Alice Guo dihukum bersama
tujuh terdakwa lainnya. Hukuman: penjara seumur hidup,” — Jaksa Negara Olivia
Torrevillas (AFP). Nama tujuh terdakwa lain tak dipublikasikan karena aturan
kerahasiaan.
Dengan putusan ini,
teka-teki masa lalu Guo mungkin belum terjawab seluruhnya. Namun satu hal
pasti: pelariannya berakhir di balik jeruji, menutup babak panjang seorang
pejabat misterius yang disebut-sebut sebagai agen asing dan otak jaringan TPPO
terbesar di Filipina.

0 Komentar