Jakarta — Dalam Talkshow Kebangsaan bertema “Mereformasi
Mekanisme Gelar Pahlawan Nasional: Dari Kepentingan Politik ke Integritas
Sejarah” yang diselenggarakan Lingkar Dialektika FISIP Universitas Bung Karno
di Gedung Joang ’45, pengacara HAM dan dosen FH UBK, Chrisbiantoro, S.H.,
LL.M., menyampaikan kritik tajam terkait penetapan gelar Pahlawan Nasional
untuk Soeharto.
Ia menegaskan bahwa sebelum seorang tokoh diberikan
legitimasi moral sebagai pahlawan, harus ada mekanisme rekonsiliasi berbasis
kebenaran. Ia mencontohkan Nelson Mandela, yang memprakarsai Truth and
Reconciliation Commission (TRC) setelah jatuhnya apartheid di Afrika
Selatan.
“Mandela tidak meminta rakyat langsung memaafkan. Ia meminta
negara jujur dulu terhadap luka sejarah. Ada ruang di mana korban dan pelaku
bertemu, berbicara, dan mengakui kebenaran,” ungkap Chrisbiantoro.
Ia membandingkan konteks itu dengan Indonesia yang menurutnya
belum pernah menyelenggarakan mekanisme resmi untuk mengungkap kebenaran
tragedi negara yang melibatkan pelanggaran HAM berat.
“Bagaimana kita menempatkan figur
tertentu sebagai pahlawan jika mekanisme kebenarannya belum dimulai? Mandela
membangun rekonsiliasi melalui kejujuran; kita justru melompati langkah itu,”
pungkasnya.
0 Komentar