Diamnya Kampus, Bangkitnya Perlawanan: Lingkar Dialektika Tantang Narasi Negara Soal Soeharto

 


Di saat sebagian kampus, termasuk Universitas Bung Karno (UBK), memilih diam terkait polemik gelar pahlawan untuk Soeharto, Lingkar Dialektika justru bergerak. Komunitas mahasiswa ini sukses menyelenggarakan talkshow kebangsaan bertema reformasi mekanisme gelar pahlawan nasional di Gedung Joang ’45 pada Jumat malam (21/11/25).

Acara ini semula ditolak untuk digelar di aula utama UBK. Alasannya “tema terlalu berpotensi memicu perdebatan”. Namun bagi peserta dan penyelenggara, keputusan itu menunjukkan masih kuatnya trauma dan sensor warisan Orde Baru di dunia pendidikan.

Acara dihadiri lebih dari seratus mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta. Narasumber yang tampil antara lain, Chrisbiantoro (Lawyer KontraS dan Dosen FH UBK), Radik Karsadiguna (Direktur Pemberdayaan Sosial Kemensos RI), dan Virdian Aurellio (Ketua BEM Unpad 2022).

Dalam forum, pembicara dan peserta sepakat bahwa penetapan Soeharto sebagai pahlawan bukan hanya kontroversi administratif, tetapi operasi rekonstruksi ingatan kolektif bangsa.

Ketua Lingkar Dialektika, Prayoga, menyampaikan kritik keras kepada civitas UBK. “Ketika Soeharto diberi gelar pahlawan, UBK memilih diam. Padahal Orde Baru dulu melarang pendirian Yayasan Pendidikan Soekarno, termasuk pendirian UBK. Diam dalam momen seperti ini bukan netral, tetapi  persetujuan halus. Diam adalah bentuk ikut serta dalam pencucian sejarah,” katanya tegas.

“Ketika kampus yang menggunakan nama Soekarno takut bicara tentang Soeharto, maka kita sedang melihat gejala pengkhianatan moral intelektual. Kalau negara mau memutihkan masa lalu, maka mahasiswa UBK kita wajib menjadi nodanya,” tutup Prayoga yang juga merupakan mahasiswa FISIP UBK.


Posting Komentar

0 Komentar