Aktivis dan saksi sejarah Dwi Kundoyo mengungkap kisah nyata tentang kerasnya tekanan aparat di masa Orde Baru dalam acara Omon-Omon yang tayang di kanal Gerpol TV. Ia menuturkan bagaimana ruang kebebasan publik nyaris tertutup di bawah pemerintahan Soeharto.
“Waktu itu kita mau diskusi saja dibubarin,” kata Dwi Kundoyo, mengingat kembali masa ketika mahasiswa dan aktivis sering menjadi target pengawasan ketat. Ia menuturkan bahwa sekadar mencoba berkumpul atau merancang aksi sudah dianggap ancaman oleh penguasa.
“Pernah mau bikin aksi, datang ke satu tempat, ternyata tempat itu sudah disteril. Di depan udah tentara semua,” ujarnya. Ia bahkan mengaku beberapa kali gagal menggelar forum mahasiswa karena tekanan aparat bersenjata pakai laras panjang “Saya bikin FKSN beberapa kali gagal" kenangnya.
Dalam perbincangan itu, Dwi juga menyoroti klaim Soeharto sebagai “Bapak Pembangunan”. Menurutnya, pembangunan di masa Orde Baru tidak merata dan justru menimbulkan banyak penderitaan. “Pembangunan memang ada, tapi tersentral di Jawa. Banyak penggusuran, konflik di tengah masyarakat merebak,” ujarnya.
Dwi menilai bahwa jika Soeharto benar layak disebut Bapak Pembangunan, maka seharusnya tidak perlu ada reformasi. “Kalau benar bapak pembangunan, kan nggak ada reformasi. Tapi faktanya, justru rakyat bangkit karena ketidakadilan itu,” tegasnya.
Pernyataan Dwi Kundoyo menjadi pengingat bahwa di balik slogan kemajuan ekonomi Orde Baru, ada represi dan ketakutan yang dialami banyak aktivis dan masyarakat biasa.
📺 Tonton videonya di kanal YouTube Gerpol TV, program “Omon-Omon”.
0 Komentar