![]() |
| Pengamanan di Gedung DPR (Foto: Rakyat Merdeka) |
Gedung DPR RI di Senayan kini berada dalam status siaga tinggi setelah terungkap adanya rencana serangan teroris. Peningkatan pengamanan dilakukan menyusul penangkapan lima terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror Polri, yang sebelumnya merekrut hingga 110 anak dalam jaringan mereka. Temuan itu membuka fakta mengejutkan: salah satu terduga pelaku berniat menjadikan Gedung DPR sebagai target aksi.
"Salah satu dari
pelaku ini berkeinginan untuk melakukan aksi di Gedung DPR. Nah ini yang harus
segera dilakukan penegakan hukum," ujar Juru Bicara Densus 88, AKBP
Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan,
sebagaimana dikutip dari rm.id, Selasa (18/11/2025). Meski belum merinci
skenario serangan, Densus menegaskan ancaman tersebut sudah dimitigasi dan
penyelidikan jaringan yang terlibat masih terus berlangsung.
Pengamanan
Berlapis, Pemeriksaan Diperketat
Di Kompleks Parlemen,
penjagaan kini dilakukan secara ketat dan berlapis. Setiap pintu masuk dijaga
dengan prosedur pemeriksaan ekstra—mulai dari gerbang utama hingga koridor
menuju ruangan anggota DPR.
Aparat kepolisian
bersenjata lengkap berjaga di area strategis. Mobil maupun motor, termasuk
milik anggota Dewan, wajib melewati pemeriksaan ketat dan metal detector.
Pengunjung tanpa kepentingan resmi otomatis dilarang masuk.
Ketua Komisi III DPR,
Habiburokhman, membenarkan bahwa standar keamanan di DPR memang sudah
diperketat. “Saya juga kadang-kadang masuk ke sini kan ada yang jaga. Dicek
mobil kita, termasuk mobil Anggota kan dicek,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Meski mengakui
pentingnya peningkatan keamanan, ia menilai pengamanan yang terlalu ketat bisa
menghambat interaksi masyarakat dengan wakilnya. "Kadang-kadang agak
kesulitan terima tamu dari dapil. Nyangkut di depan lama banget,"
keluhnya.
Namun demikian, Komisi
III tetap memastikan koordinasi intensif dengan aparat keamanan agar tidak ada
celah yang bisa dimanfaatkan kelompok terorisme.
Isu Rekrutmen Anak
Jadi Sorotan DPR
Keterlibatan anak-anak
dalam jaringan terorisme turut menjadi perhatian serius DPR. Habiburokhman
menegaskan, Komisi III akan membahas penanganan khusus agar penegakan hukum
tetap mematuhi prinsip keadilan anak. “Tentu kita minta kepolisian mematuhi hal
tersebut,” katanya.
Aksi Teror Lewat
Dunia Digital, Pengamanan Siber Didesak Diperkuat
Wakil Ketua Komisi I
DPR, Dave Laksono, menyoroti penyalahgunaan ruang digital oleh jaringan teroris
yang diduga merekrut anak-anak untuk aksi berbahaya. Ia mendesak penguatan
keamanan siber secara serius dan kolaboratif.
“Tidak bisa hanya
pemerintah saja. Harus ada kerja sama pemerintah, swasta, akademisi, dan
masyarakat sipil,” ujarnya, Rabu (19/11/2025). Dave juga mengajak masyarakat
menjaga ruang digital dengan menjadi pengguna yang kritis agar radikalisme
tidak berkembang.
Pakar: Gedung DPR
Memang Target Populis Teroris
Pengamat intelijen dan
terorisme, Stanislaus Riyanta, menyatakan Gedung DPR memang menjadi target
ideal bagi kelompok teroris. "Target yang dicari yang populis,"
ujarnya, dikutip dari Rakyat Merdeka, Rabu malam (19/11/2025).
Meski lima terduga
telah ditangkap, ia memperingatkan potensi ancaman belum sepenuhnya hilang. "Bisa
dilakukan pelaku lain… fenomena ini sulit dibendung karena sulit terdeteksi.
Yang menjadi harapan utama adalah keluarga," pesannya.
Dengan ancaman nyata
yang mengarah ke pusat demokrasi Indonesia ini, semua pihak—pemerintah, DPR,
aparat keamanan, hingga masyarakat—diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
Upaya bersama menjadi kunci agar gedung wakil rakyat tetap aman dari teror yang
mengintai.

0 Komentar