Dalam videonya, ia menyatakan bahwa alasan pemotongan karena status “training” tidak masuk akal. Ia mengaku telah bekerja penuh layaknya karyawan tetap dan merasa berhak mendapatkan upah sesuai perjanjian. Keluhannya pun menggugah simpati publik yang menilai bahwa transparansi pengupahan seharusnya menjadi hal mendasar bagi setiap lembaga atau perusahaan.
Kasus ini memicu gelombang dukungan dari warganet yang mempertanyakan mekanisme pemotongan gaji di yayasan tersebut. Banyak yang menilai tindakan itu tidak adil dan menuntut kejelasan dari pihak manajemen.
Sampai saat ini, baik yayasan maupun manajemen MBG belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Publik berharap persoalan ini segera diusut dan diselesaikan secara adil, tanpa merugikan pekerja yang sudah bekerja keras.
0 Komentar