Ironi di Istana! Marsinah dan Soeharto ‘Bertemu’ dalam Deretan Pahlawan Nasional!


Foto aktivis buruh Marsinah ditaruh persis di samping Presiden ke-2 Soeharto saat pemberian gelar pahlawan nasional. Baik Marsinah dan Soeharto dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto

Jakarta, Gerpol.id — Sebuah momen yang memantik ironi dan emosi publik terjadi di Istana Negara, Senin (10/11/2025). Dalam upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto, foto aktivis buruh Marsinah terpajang berdampingan dengan Presiden ke-2 RI, Soeharto — dua nama yang dalam sejarah Indonesia justru berdiri di dua kutub berlawanan.

Penobatan ini dikutip dari wartakota.tribunnews.com, dihadiri oleh keluarga para tokoh penerima gelar pahlawan, termasuk keluarga Soeharto dan keluarga Marsinah. Namun pemandangan di ruang upacara itu menimbulkan keharuan sekaligus tanda tanya besar: di antara deretan foto para tokoh, foto Marsinah justru dipasang tepat di sebelah Soeharto — sosok yang dalam ingatan banyak aktivis menjadi simbol kekuasaan represif era Orde Baru.

Air mata pun pecah dari pihak keluarga Marsinah. Tangis haru bercampur getir pecah di tengah suasana formal kenegaraan. Sebab bagi banyak orang, Marsinah bukan sekadar aktivis buruh, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Ia tewas mengenaskan setelah memperjuangkan hak-hak buruh pabrik di Sidoarjo pada 1993 — di masa kekuasaan Soeharto yang dikenal mengekang kebebasan berserikat dan menyuarakan kritik.

Kasus kematiannya menjadi salah satu noda kelam dalam sejarah hukum Indonesia. Bahkan, pakar forensik senior almarhum Abdul Mun’im Idris pernah mengungkap dalam bukunya X File bahwa rahim Marsinah ditemukan rusak akibat tembakan dari dalam lubang vaginanya — sebuah kekejaman yang mengguncang nurani bangsa. Mun’im menulis bahwa kasus Marsinah adalah “aib dalam sejarah penegakan hukum Indonesia.”

Lebih dari tiga dekade berlalu, pelaku pembunuhan Marsinah tak pernah diadili, identitasnya tak pernah terungkap. Namun kini, nama perempuan pemberani itu akhirnya diakui negara sebagai Pahlawan Nasional — bersama dengan nama Soeharto, yang di mata sebagian kalangan justru dianggap sebagai simbol kekuasaan yang menindas suara rakyat kecil.

Publik pun ramai mempertanyakan keputusan pemerintah. Di media sosial, muncul gelombang komentar yang menyoroti ironi ini: dua nama dengan sejarah yang saling bertabrakan kini “bertemu” dalam satu deretan kehormatan negara.

“Ini bukan sekadar seremoni, ini luka lama yang terbuka kembali,” tulis salah satu warganet di platform X.

Kini, potret dua tokoh itu — Marsinah dan Soeharto — terpajang sejajar di dinding Istana. Sebuah simbol yang di mata sebagian orang mencerminkan paradoks dalam sejarah bangsa: antara keberanian melawan ketidakadilan dan kekuasaan yang pernah menindasnya, kini disatukan dalam satu ruang penghormatan bernama Pahlawan Nasional.

Posting Komentar

0 Komentar