Dalam forum diskusi kebangsaan di Gedung Joang ’45, Virdian
Aurellio turut menanggapi narasi publik yang semakin sering muncul bahwa era
Reformasi dinilai lebih buruk dan lebih kacau dibandingkan masa Orde Baru.
Pernyataan ini, menurutnya, sangat problematis dan tidak lahir dari ruang
objektif, melainkan dari kekecewaan terhadap melemahnya institusi demokrasi
beberapa tahun terakhir.
“Jika hari ini orang berkata zaman Orba lebih baik daripada
Reformasi, maka kita harus berani menyebut penyebabnya, yaitu penghancuran
independensi KPK pada 2019. Itu titik balik kerusakannya,” katanya.
Viridan menjelaskan bahwa pada masa Reformasi, harapan publik
terhadap pemberantasan korupsi sangat besar. KPK pernah menjadi aktor moral
yang dipercaya rakyat. Namun ketika kewenangan lembaga itu dilemahkan melalui
revisi undang-undang, kepercayaan publik terhadap demokrasi ikut runtuh.
Menurutnya, ketidakpuasan itu tidak boleh dijadikan
pembenaran untuk memutihkan sejarah Orde Baru. “Demokrasi tidak gagal,
pemberantasan korupsi tidak gagal, yang gagal adalah mereka yang memegang
mandat rakyat tapi justru merusak sistem pengawasan negara.”
Pernyataan itu memicu reaksi
lantang dari peserta yang merasa bahwa konteks ini sering hilang dalam publik
wacana. Viridan juga mengingatkan bahwa nostalgia terhadap Orde Baru seringkali
dibangun dari narasi simplifikasi, “orang bilang zaman Orba stabil, tapi stabil
untuk siapa? Untuk rakyat? Atau untuk keluarga Cendana?”.
0 Komentar