Jakarta — Dalam forum kebangsaan yang digelar di Gedung Joang
’45 oleh Lingkar Dialektika, Chrisbiantoro yang merupakan Dosen FH Universitas
Bung Karno dan Lawyer KontraS menyampaikan kritik mendalam terhadap wacana
pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto. Di hadapan peserta forum, ia
menekankan bahwa persoalan yang dihadapi bangsa ini bukan sekadar soal
pengakuan gelar, melainkan perjuangan kolektif untuk menjaga memori sejarah
tetap hidup.
Menurutnya, bangsa yang gagal menjaga ingatan kritis akan
mudah dipengaruhi oleh rekayasa narasi sejarah yang dibungkus politik
kepentingan. “Tantangan terbesar kita hari ini bukan soal setuju atau menolak
gelar pahlawan. Tantangan terbesar kita adalah melawan pelupaan sejarah,” ujar
Chrisbiantoro tegas.
Ia mengingatkan bahwa pelanggaran HAM, pembungkaman
demokrasi, dan praktik KKN di masa Orde Baru bukan catatan pinggiran sejarah,
tetapi bagian dari pengalaman traumatik bangsa yang belum terselesaikan. Hingga
hari ini, korban peristiwa seperti Trisakti, Semanggi I dan II, Penghilangan
Paksa 1997–1998, dan kekerasan terstruktur lainnya masih belum memperoleh
keadilan maupun pemulihan.
Chrisbiantoro menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan tanpa
mempertimbangkan luka sejarah merupakan bentuk pembiaran terhadap politik
impunitas. “Jika gelar diberikan tanpa memperhitungkan luka sejarah, maka
keputusan tersebut bukan penghormatan, melainkan penghapusan memori publik,”
tambahnya.
Ia menutup dengan seruan agar
pemerintah tidak terburu-buru membangun monumen penghormatan, sebelum terlebih
dahulu menuntaskan pertanggungjawaban sejarah.
0 Komentar