Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sejak awal sudah memberikan masukan kepada Presiden ke 7 Joko Widodo terkait proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh). Namun, menurut Hasto, masukan tersebut tak menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pemerintah.“Ya kalau kita lihat, kemarin kami laporkan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan saya menjadi saksi, bagaimana Ibu Mega berulang kali menyampaikan bahwa apakah rakyat memerlukan kereta api cepat tersebut,” kata Hasto di Makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11/2025).
Hasto menyebut Megawati menilai bahwa pembangunan kereta cepat bukan prioritas utama rakyat. Ia menegaskan, kebutuhan masyarakat untuk pendidikan, pertanian, dan riset jauh lebih mendesak dibanding proyek transportasi berbiaya besar tersebut.
“Bendungan bagi petani, penyediaan pupuk, dan pendidikan jauh lebih penting. Bahkan saat itu ada perubahan kebijakan dari yang awalnya tanpa jaminan negara, lalu tiba-tiba ada jaminan negara,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hasto menyampaikan bahwa Megawati sebenarnya sempat mengusulkan pembangunan jalur ganda (double track) untuk memperkuat transportasi publik di berbagai daerah, termasuk di Sumatera.
“Proses penguasaan teknologi akan lebih hebat kalau dikerjakan oleh anak bangsa,” tegasnya.
Namun, keputusan untuk melanjutkan proyek Kereta Cepat Whoosh, kata Hasto, tetap berada di tangan Presiden Jokowi.
“Sebagai partai politik kami sudah memberikan masukan-masukan, bahkan sampai tiga kali, tetapi keputusan akhirnya tetap di tangan presiden,” ujarnya.
Hasto juga menyinggung soal potensi risiko geologis di kawasan Bandung serta dampaknya terhadap perkebunan di Walini, yang menurutnya semestinya menjadi perhatian dalam perencanaan proyek.
“Prioritas seharusnya pada program-program yang benar-benar dibutuhkan rakyat dan mengangkat martabat ekonomi kerakyatan,” pungkasnya.

0 Komentar