Santri Disuruh Ngoding Robot, Gibran Tak Paham Realita Pendidikan Pesantren?


Jakarta, Gerpol.id
— Pernyataan Wali Kota Solo sekaligus Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka, kembali menuai sorotan publik setelah dirinya meminta santri agar menjadi ahli dalam bidang Artificial Intelligence (AI), blockchain, robotika, dan bioteknologi. Ucapan itu disampaikan dalam sambutannya pada pelantikan Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah periode 2025–2029, sebagaimana dikutip dari detik.com, Selasa (4/11/2025).


“Di semua pesantren saya sampaikan, yang namanya santri, anak-anak muda, Ansor, ya ini akhlaknya pasti baik, ngajinya baik. Tapi juga harus diimbangi dengan ilmu-ilmu yang bisa menjawab tantangan zaman. Kita ingin mencetak santri-santri ahli blockchain, ahli artificial intelligence, ahli robotik, ahli bioteknologi,” kata Gibran.

Gibran juga menyebut, pemerintah tengah menyiapkan Ditjen Pesantren, yang menurutnya akan memperkuat posisi pondok pesantren dalam menghadapi tantangan zaman.

“Pak Presiden sudah setuju dengan pembentukan Ditjen Pesantren. Ini atas usulan para kiai, dikawal dan dikaji para pemilik pondok, pengasuh pondok, dan sekarang sudah ada Ditjen-nya,” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut dinilai banyak kalangan tidak realistis dan menunjukkan minimnya pemahaman Gibran terhadap kondisi nyata pendidikan pesantren. Sebagian besar pesantren di Indonesia masih berjuang dengan keterbatasan fasilitas dasar seperti akses internet, komputer, dan tenaga pengajar teknologi.

Sementara Gibran mendorong santri untuk menjadi “ahli robotik”, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak pesantren bahkan belum memiliki laboratorium sains atau ruang komputer yang layak.

Kritik juga bermunculan di berbagai media sosial, di mana sejumlah netizen menilai Gibran terlalu muluk dan tidak memahami bahwa santri lebih fokus pada ilmu agama dan penguatan karakter keislaman, bukan pada sektor teknologi tinggi yang membutuhkan dukungan besar dari negara.

Meski demikian, sebagian pihak menilai ide Gibran bisa menjadi pemicu transformasi pendidikan pesantren, selama diikuti kebijakan konkret seperti pengadaan fasilitas, pelatihan guru, dan kurikulum adaptif yang sesuai dengan realita di lapangan.

Dengan gagasan mencetak santri ahli teknologi, Gibran tampaknya ingin mendorong pesantren masuk ke era digital. Tapi tanpa pemahaman mendalam tentang kondisi riil pesantren di pelosok negeri, ide tersebut bisa jadi hanya akan berakhir sebagai wacana elitis yang jauh dari kenyataan.

Posting Komentar

0 Komentar