Saya Dibakar Hidup-hidup di Tengah Jalan: Kisah Tragis Pak Irwan, Penyintas Tragedi Mei 1998


Di tengah suasana diskusi yang penuh emosi dan refleksi dalam acara “Bongkar Warisan Kelam Soeharto” di kanal Gerpol TV, kesaksian Pak Irwan, salah satu penyintas Tragedi Mei 1998, menjadi momen paling mengguncang hati. Dengan suara bergetar dan tatapan yang masih menyimpan trauma, ia mengisahkan kembali detik-detik mengerikan saat hidupnya hampir berakhir di tengah kobaran api kebencian.

“Tanggal 14 Mei, pagi hari, saya dan kakak saya sedang menjalankan tugas,” tutur Pak Irwan membuka ceritanya. “Kami waktu itu harus menagih uang, jumlahnya sekitar tiga ratus juta rupiah. Setelah urusan selesai, kami berdua berniat pulang ke Glodok.”

Namun perjalanan pulang itu berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah ia lupakan.

“Di tengah jalan, tiba-tiba kami dicegat oleh orang-orang tinggi, rambutnya cepak,” lanjutnya dengan nada getir. “Tanpa alasan jelas, kami langsung dipukuli. Saya tak sempat melawan. Setelah itu, mereka menyiram saya dengan bensin… lalu membakar.”

Suasana ruang diskusi mendadak hening. Tak ada yang berbicara. Hanya mata-mata yang menunduk, mencoba menahan haru mendengar bagaimana seseorang yang masih hidup kini berbicara tentang dirinya yang hampir mati, dibakar hidup-hidup oleh aparat tak dikenal di tengah kekacauan yang melanda Jakarta saat itu.

Pak Irwan mengaku, luka bakar di tubuhnya menjadi saksi bisu atas kekejaman yang terjadi. Namun lebih dari sekadar luka fisik, trauma batin itu yang masih ia bawa hingga kini.

“Setiap bulan Mei, saya selalu datang ke TPU Pondok Ranggon,” ujarnya lirih. “Di sana banyak korban yang dimakamkan. Saya berziarah, berdoa, dan mengenang teman-teman yang tak sempat selamat. Itu cara saya menghormati mereka sekaligus mengingatkan diri, bahwa kita tidak boleh lupa.”

Kisah Pak Irwan bukan sekadar kesaksian pribadi, tapi juga bagian dari memori kolektif bangsa tentang luka masa lalu yang belum benar-benar disembuhkan. Tragedi Mei 1998 bukan hanya soal kerusuhan atau perubahan kekuasaan tapi juga tentang manusia, penderitaan, dan keadilan yang tertunda.

“Saya tidak menuntut banyak,” tutup Pak Irwan. “Saya hanya ingin kebenaran diungkap. Supaya generasi muda tahu apa yang benar-benar terjadi.”

Di balik kisahnya, tersimpan pesan kuat: bahwa bangsa yang melupakan sejarah kekerasannya sendiri, sesungguhnya sedang membiarkan luka itu terus berdarah.

Posting Komentar

0 Komentar