Sayangkan Isu Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Dinilai Pesanan Politik, Virdian : “Jangan Cacat Logika!”

 


Jakarta — Suasana diskusi masih panas ketika Virdian Aurellio kembali mengambil mikrofon. Dalam forum bertema “Mereformasi Mekanisme Gelar Pahlawan Nasional: Dari Kepentingan Politik ke Integritas Sejarah”, ia menyampaikan kritik keras kepada kelompok masyarakat yang selalu merespons isu publik dengan tuduhan bahwa semua protes atau diskusi politik adalah “pesanan”.

Dengan nada satir namun tegas, ia membuka “di negeri ini, begitu ada orang bicara kritis, komentarnya langsung: ‘Ah itu pasti bayaran.’ Kalau begitu, kapan terakhir kali kita pakai otak, bukan asumsi?”

Pernyataan tersebut langsung memancing reaksi tawa, keterkejutan, sekaligus tepuk tangan panjang para peserta diskusi. Virdian menjelaskan bahwa cara berpikir seperti itu membunuh ruang demokrasi. Alih-alih membuka ruang dialog, pola pikir tersebut melenyapkan argumen sebelum didengar. “Mereka yang menolak berpikir memilih jalan pintas dengan menuduh motivasi, bukan menguji substansi. Bagi saya, itu bukan skeptisisme, itu cacat logika”.

Menurutnya, pola tersebut muncul setelah bertahun-tahun publik dibentuk melalui kultur ketakutan, pembungkaman, dan gelombang hoaks yang membuat orang lebih mudah curiga daripada menganalisis. “Kalau penolakan Soeharto disebut komoditas politik, maka semua isu bisa dituduh sama, termasuk Peringatan Darurat, 17+8, dan lain-lain,” tegasnya.

Viridan menegaskan bahwa framing seperti itu sangat berbahaya, terutama dalam konteks perdebatan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto. “Kalau kritik terhadap gelar pahlawan untuk Soeharto dianggap agenda politik, maka kasus KPK, UU ITE, kriminalisasi aktivis, sampai persoalan RUU KUHAP pun bisa dituduh sama,” katanya.

 

Virdian juga mengingatkan bahwa generasi muda hari ini tidak boleh mengulangi pola sikap generasi sebelumnya yang banyak memilih diam, pasrah, atau hanya menjadi komentator sinis. “Kalau generasi kita berhenti berpikir, berhenti bertanya, dan berhenti berdebat, maka kita bukan penerus reformasi. Kita hanya menjadi penonton sejarah yang direkayasa,” tutupnya.


Posting Komentar

0 Komentar