![]() |
| (Foto: Detik.com) |
Bandara IMIP di Morowali, Sulawesi Tengah, tiba-tiba menjadi pusat perhatian publik setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti keberadaannya. Menhan mempertanyakan mengapa bandara ini tidak memiliki perangkat negara di dalamnya, sebuah pernyataan yang langsung memicu diskusi soal status dan kepemilikan bandara tersebut. Apalagi, bandara ini terletak di salah satu kawasan industri raksasa yang sangat strategis—Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), pusat hilirisasi nikel terbesar di Indonesia.
Selama ini, nama
“Bandara IMIP” membuat publik langsung mengaitkannya dengan PT Indonesia
Morowali Industrial Park (PT IMIP), pengelola kawasan industri tersebut. Lalu
siapa sebenarnya penguasa di balik bandara ini?
Berdasarkan laporan Detik.com,
pengamat ITB Mohamad Abdul Kadir Martoprawiro menjelaskan bahwa Bandara IMIP
merupakan private airport atau bandara privat milik PT IMIP. Fungsinya
pun bersifat khusus, yaitu melayani kebutuhan logistik industri—mulai dari
pengangkutan pekerja hingga suplai material bagi aktivitas industri di kawasan
tersebut.
Informasi ini sejalan
dengan data dari Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, yang
mencatat Bandara IMIP sebagai bandara swasta dengan klasifikasi 4B. Meski
dikelola secara privat, pengawasan operasionalnya tetap berada di bawah
Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar. Bandara ini masuk kategori non-kelas
dengan status operasi khusus untuk rute domestik.
Secara teknis, Bandara
IMIP terdaftar dengan kode WAMP (ICAO) dan MWS (IATA). Aktivitas udara di
bandara ini juga tergolong tinggi. Hingga 2024, tercatat ada 534 pergerakan
pesawat dengan total 51.800 penumpang, angka yang menunjukkan betapa vitalnya
bandara tersebut bagi mobilitas industri di kawasan Morowali.
Bandara IMIP berlokasi
di Jl. Trans Sulawesi, Fatufia, Kabupaten Morowali, dengan fasilitas yang cukup
lengkap untuk operasional industri. Landasan pacunya memiliki panjang 1.890
meter dan lebar 30 meter dengan daya dukung PCN 68/F/C/X/T, memungkinkan
pesawat berbadan sedang melakukan pendaratan. Area apron seluas 96 × 83 meter
juga memiliki daya dukung yang sama. Untuk keamanan pendaratan, bandara ini
dilengkapi runway strip berukuran 2.010 × 300 meter.
Dengan sorotan dari
Menhan, publik kini makin bertanya-tanya: apakah bandara privat sebesar ini
seharusnya memiliki perangkat negara di dalamnya? Dan apakah pengelolaan
bandara yang begitu strategis seharusnya sepenuhnya berada di tangan pihak
swasta?
Pertanyaan-pertanyaan
itu semakin menguat seiring meningkatnya perhatian pada kawasan industri nikel
dan peran vital Morowali dalam rantai pasok nasional. Satu hal yang
jelas—Bandara IMIP bukan sekadar fasilitas industri biasa, melainkan simpul
penting yang kini berada dalam sorotan nasional.

0 Komentar