Skandal Proyek Whoosh! Tanah Negara Malah Dijual ke Negara Sendiri!

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu

Jakarta, Gerpol.id — Proyek ambisius Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) kembali diterpa angin panas. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah membongkar dugaan skandal besar di balik pembebasan lahan proyek bernilai triliunan rupiah itu. Diduga, ada oknum yang menjual tanah milik negara… ke negara sendiri!

Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkapkan bahwa lembaganya sejak awal 2025 telah menelusuri sejumlah lokasi yang diduga menjadi titik permainan. “Ini sepanjang jalur proyek, apakah di Halim, Bandung, atau di antara keduanya — semua sedang kami dalami,” ujar Asep dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Kompas.com, Jumat (7/11/2025).

Yang paling mencengangkan, kata Asep, KPK menemukan indikasi bahwa tanah yang sejatinya milik negara dijual kembali oleh oknum kepada negara untuk kebutuhan proyek Whoosh. “Ada oknum-oknum, di mana yang seharusnya ini milik negara, tetapi dijual lagi ke negara,” tegasnya.

Lebih parah lagi, harga jualnya pun tidak masuk akal. Lahan yang mestinya tidak perlu dibayar karena statusnya aset negara, justru dijual dengan harga di atas nilai pasar. “Padahal kalau itu kawasan hutan, ya cukup dikonversi saja dengan lahan lain, bukan dijual. Tapi ini malah dibisniskan,” tutur Asep heran.

Tak hanya permainan tanah, KPK juga membidik dugaan mark-up (penggelembungan harga) dalam proses pembebasan lahan. Harga yang seharusnya hanya Rp10 miliar, diduga dinaikkan menjadi Rp100 miliar. “Bayangkan saja, harga wajarnya 10, tiba-tiba jadi 100. Itu jelas enggak wajar. Negara dirugikan besar. Kami minta agar keuntungan haram itu segera dikembalikan,” kata Asep menegaskan.

Asep memastikan penyelidikan tidak akan menghambat jalannya proyek kereta cepat yang diklaim sebagai simbol kemajuan transportasi nasional itu. Namun, ia menegaskan KPK tak akan menutup mata terhadap potensi penyimpangan di balik proyek strategis negara. “Silakan Whoosh berjalan, tapi jangan sampai uang rakyat ikut melesat tanpa arah,” ujarnya tajam.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik. Jika benar terbukti, maka skandal “tanah negara dijual ke negara” ini bisa menjadi salah satu ironi terbesar dalam sejarah proyek infrastruktur Indonesia — di mana negara justru menjadi korban dari permainan busuk oknum di dalamnya.

Posting Komentar

0 Komentar