Di tengah megahnya proyek infrastruktur di kota-kota besar, ada kisah nyata yang seharusnya mengetuk hati para pembuat kebijakan. Kisah ini dibagikan oleh akun Instagram @kementrian_kurangajar, yang menyoroti realita pahit dunia pendidikan di pelosok negeri.Di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, anak-anak SD Negeri 240 Desa Bobo setiap hari harus mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk bisa belajar.
Setiap pagi, mereka menyeberangi derasnya arus Sungai Gosora dan Sungai Peda dua sungai yang menjadi penghalang utama menuju sekolah. Tidak ada jembatan, tidak ada perahu layak. Hanya niat belajar dan keberanian yang menjadi modal utama. Guru dan warga setempat bergantian menggendong anak-anak itu satu per satu, berjuang melawan arus agar mereka tidak terseret air.
Sementara itu, pemerintah masih sibuk membicarakan “pemerataan pendidikan” di ruang ber-AC, dengan presentasi dan rapat evaluasi program yang indah di atas kertas. Ironisnya, keselamatan siswa di daerah terpencil seperti Pulau Obi seolah menjadi hal yang bisa ditunda.
Negeri ini sering membanggakan diri sebagai negara dengan komitmen kuat terhadap pendidikan. Namun fakta di lapangan berkata lain di tepi sungai kecil di Halmahera, masa depan anak-anak masih bergantung pada nyali dan keajaiban.
Barangkali, yang dibutuhkan mereka bukanlah sekadar pidato atau visi-misi besar. Satu jembatan sederhana saja sudah cukup agar anak-anak Pulau Obi bisa menyeberang menuju masa depan tanpa harus menantang maut setiap pagi.

0 Komentar