Jakarta, Gedung Joang ‘45 — Dalam gelaran Talkshow Kebangsaan
bertema “Mereformasi Mekanisme Gelar Pahlawan Nasional: Dari Kepentingan
Politik ke Integritas Sejarah”, Virdian Aurellio, salah satu pembicara termuda
dalam diskusi tersebut, menyampaikan kritik yang tegas dan argumentatif terkait
logika pemberian gelar pahlawan kepada tokoh nasional, termasuk presiden.
Acara ini digagas oleh Lingkar Dialektika, komunitas
intelektual yang dihuni mahasiswa FISIP Universitas Bung Karno (UBK), dan
dihadiri akademisi, aktivis HAM, jurnalis, serta mahasiswa lintas universitas.
Forum berlangsung hangat namun penuh muatan politis dan intelektual.
Dalam pernyataannya, Virdian mengkritik keras pandangan yang
menyamakan jabatan presiden dengan kedudukan moral sebagai pahlawan. “Membangun
jalan tol, sekolah, bendungan, bandara, itu bukan jasa luar biasa, itu mandat
konstitusional. Presiden dipilih untuk bekerja, bukan untuk dikultuskan,”
tegasnya.
Menurutnya, logika “pembangunan” tidak bisa menjadi dasar
tunggal pemberian gelar pahlawan. Jika itu dijadikan standar, maka semua kepala
daerah, semua pejabat, bahkan pemilik perusahaan yang membangun infrastruktur
bisa mengklaim hal serupa.
Viridan kemudian mempertanyakan standar etika dan moral
pemberian gelar negara. “Kalau semua presiden otomatis akan jadi pahlawan, lalu
apa arti seleksi sejarah? Gelar pahlawan bukan souvenir politik yang diberikan
bergilir agar semua terlihat berjasa,” tuturnya.
Ia juga menyinggung kekhawatiran bahwa narasi pembangunan
sering digunakan sebagai selimut untuk menutupi pelanggaran HAM, korupsi, atau
penyalahgunaan kekuasaan. “Sejarah bangsa ini berdarah. Banyak orang hilang,
dibungkam, dan dikorbankan untuk mempertahankan kekuasaan. Jangan pernah
menjadikan pembangunan sebagai alasan untuk menghapus luka kolektif itu,”
lanjutnya.
“Pahlawan bukan gelar yang lahir
dari jabatan. Pahlawan lahir dari integritas. Jika negara menggunakan gelar ini
untuk mencuci sejarah, maka generasi kita punya tanggung jawab untuk menolak
dan mengoreksinya,” tutupnya menohok.
0 Komentar