Dalam sesi yang sama, Viridan menyampaikan salah satu
kekhawatiran terbesar dari pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto, dampaknya
terhadap sistem pendidikan, kurikulum, dan memori kolektif generasi mendatang.
“Begitu negara mengubah posisi sejarah seseorang dalam
struktur simbolik kenegaraan, maka kurikulum pendidikan akan mengikuti. Guru
akan mengajar versi sejarah yang telah dipoles. Itu bukan teori, itu pola,”
ujarnya.
Ia menyebut peristiwa perubahan narasi dalam buku sejarah
bukan sesuatu yang baru. Hal seperti itu pernah terjadi dalam berbagai rezim di
dunia, bahkan di Indonesia. “Politik gelar pahlawan bukan hanya soal simbol,
tetapi instrumen produksi pengetahuan, dan pengetahuan menentukan ingatan suatu
generasi,” katanya.
Menurutnya, bahaya terbesar bukan
terletak pada gelarnya sendiri, tetapi pada kemampuan simbol tersebut menggeser
posisi moral figur dalam cerita bangsa, dari pelaku kekuasaan menjadi role
model nasional. “Jika Soeharto disahkan sebagai pahlawan, maka anak-anak
sekolah kelak akan menerima figur itu bukan sebagai masa kelam, tetapi sebagai
inspirasi. Itu bukan rehabilitasi sejarah, itu manipulasi!” tutupnya tegas.
0 Komentar