AM Hendropriyono Terima Pangdam Jaya di “Istana” Majapahit Jakarta, Pesan Keras: Bangsa Besar Tak Boleh Amnesia Sejarah


Jakarta — Pendiri Kraton Majapahit Jakarta, Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, menyambut langsung kunjungan Pangdam Jaya Mayjen TNI Deddy Suryadi di Balairung Mahapatih Gajah Mada, Jumat (19/12/2025). Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi militer, melainkan sarat pesan kebangsaan tentang pentingnya menghidupkan kembali ingatan sejarah bangsa.

Hendropriyono menyebut kehadiran Pangdam Jaya sebagai kehormatan besar, terlebih mengingat dirinya pernah menjabat posisi yang sama pada 1993–1994.

“Suatu kehormatan bagi saya dan keluarga. Kami terharu atas kehadiran Pangdam Jaya dan jajaran Kodam Jaya,” ujar Hendropriyono.

Kraton Majapahit Jakarta: Restorasi Peradaban, Bukan Sekadar Bangunan

Dalam pertemuan tersebut, Hendropriyono menegaskan bahwa Kraton Majapahit Jakarta dibangun bukan untuk romantisme masa lalu, melainkan sebagai upaya restorasi peradaban Indonesia yang mulai dilupakan.

Kompleks Kraton Majapahit Jakarta menghadirkan sejumlah ruang simbolik sejarah, seperti Pendopo Maharaja Hayam Wuruk, Alun-Alun Raden Wijaya, hingga Tamansari Maharatu Tribhuwana Tunggadewi yang dilengkapi replika Air Terjun Madakaripura dan Goa Suci dari Jawa Timur.

“Kita buat ini supaya generasi penerus sadar akan takdirnya sebagai bangsa besar. Ingatan kita tentang kebesaran itu sempat hilang. Ini fakta sejarah yang harus kita gali kembali,” tegas mantan Kepala BIN tersebut.

Pernyataan ini menjadi kritik tersirat terhadap lemahnya kesadaran sejarah di tengah generasi muda dan elit bangsa.

Simbol Persahabatan dan Sejarah Kodam Jaya

Dalam suasana penuh keakraban, Hendropriyono menyerahkan miniatur kapal pinisi kepada Pangdam Jaya sebagai simbol kejayaan maritim Nusantara. Sebaliknya, Mayjen TNI Deddy Suryadi menyerahkan album foto kenangan berisi dokumentasi Hendropriyono saat menjabat Pangdam Jaya.

Momen tersebut menegaskan kesinambungan nilai antara generasi pemimpin TNI: disiplin, nasionalisme, dan kesadaran sejarah.

Pesan Tersirat untuk Bangsa

Kunjungan ini menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis identitas kebangsaan, Kraton Majapahit Jakarta hadir sebagai pengingat keras bahwa bangsa besar tidak boleh kehilangan memori kolektifnya.

Sejarah, bagi Hendropriyono, bukan nostalgia—melainkan fondasi untuk masa depan Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar