Menhan Sjafrie Bongkar “Bandara Tanpa Pengawasan”: WNA Bebas Keluar-Masuk Kawasan Nikel RI


Jakarta — Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin membuat pengakuan mengejutkan terkait longgarnya pengawasan di sejumlah bandara dan pelabuhan yang berada di wilayah penghasil nikel dan bauksit Indonesia. Dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin, ia menyebut banyak warga negara asing (WNA) dan pihak lain bebas keluar-masuk tanpa pemeriksaan, membuka ruang lebar bagi aktivitas ilegal yang merugikan negara.

Menurut Sjafrie, kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun dan menciptakan ekosistem “aman” bagi para penyelundup. Mereka terbiasa membawa barang ilegal karena tahu tidak ada pemeriksaan ketat dari otoritas bandara maupun pelabuhan. "Orang keluar pelabuhan tanpa pemeriksaan, orang keluar bandara tanpa diperiksa," tegas Sjafrie, Kamis (11/12/2025).

Pengetatan Pemeriksaan Mulai Telan Korban

Ketika pemerintah mulai memperketat pengawasan, banyak oknum akhirnya tertangkap basah karena masih menganggap sistem keamanan tetap longgar seperti dulu. Mereka yang biasa lolos tanpa pemeriksaan kini terjaring pemeriksaan mendadak. "Pada suatu hari dia lewat membawa ilegalnya itu. Kepegang sama petugas, dia lupa bahwa hari ini sudah ada pemeriksaan," ungkap Sjafrie.

Fenomena ini, menurut Sjafrie, membuktikan betapa lemahnya manajemen pengawasan di kawasan strategis yang harusnya menjadi lini depan penjaga sumber daya alam Indonesia.

Negara Rugi US$800 Miliar, “Musuh Dalam Selimut” Mengintai

Hasil dari lemahnya pengawasan tersebut sangat fatal. Sjafrie mengungkapkan bahwa Indonesia mengalami kerugian yang mencapai US$ 800 miliar atau setara lebih dari Rp 12.800 triliun akibat praktik manipulasi ekspor seperti under invoicing selama 20 tahun terakhir.

Ia menyebut pelaku-pelaku ini sebagai “musuh dalam selimut” yang secara sengaja merusak kedaulatan ekonomi Indonesia dan menghambat kebangkitan industri mineral nasional.

Pemerintah Bergerak Mengamankan Sumber Daya Strategis

Penguatan sistem pengawasan kini menjadi fokus pemerintah. Pemeriksaan ketat di pintu keluar masuk bandara dan pelabuhan mulai diterapkan, terutama di wilayah yang selama ini menjadi target penyelundupan mineral bernilai tinggi seperti nikel, bauksit, dan mineral kritis lainnya.

Upaya ini diharapkan dapat:

  • Menutup celah penyelundupan,

  • Menekan aktivitas perdagangan ilegal,

  • Memulihkan kontrol negara atas kekayaan alam strategis,

  • Mencegah kerugian ekonomi lebih besar ke depannya.

Pernyataan Menhan tersebut menjadi alarm keras bahwa pembangunan ekonomi Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi, tetapi juga kedaulatan pengawasan yang tegas dan terstruktur.


Posting Komentar

0 Komentar