Miris! Pemprov Sumut Tega Tahan Kontainer Bantuan Relawan dari Jatim


Bantuan untuk korban bencana banjir Sumatera dari relawan Malang Raya dan Gimbal Alas tertahan di Pelabuhan Belawan, Medan. Kontainer berisi bantuan bagi korban bencana ini tertahan diduga karena persoalan administrasi di PT Pelni.

Ketua Yayasan Gimbal Alas Sahlan Junaedi mengatakan, mulanya relawan gabungan Malang Raya bersama Gimbal Alas terlibat dalam operasi SAR bencana Sumatera, tengah melakukan distribusi bantuan sebanyak dua kontainer.

"Ketika sampai barang tidak ada, setelah kita telusuri ternyata turun di BPBD Sumut dan sudah dibongkar kunci kontainernya," ujar Sahlan kepada detikJatim dalam sambungan telepon, Selasa (30/12/2025).

Relawan juga terkejut dengan pembongkaran isi dari kontainer tersebut karena kunci selama ini mereka yang pegang.

Sahlan mengungkapkan, BPBD Sumut kemudian meminta relawan untuk membuat surat pengiriman bantuan dari BPBD Jawa Timur. Padahal, kata Sahlan, sejak awal pengiriman bantuan yang berasal dari donasi masyarakat akan disalurkan langsung kepada masyarakat yang menjadi korban bencana.

"Untuk keluarkan bantuan itu, kami diminta buat surat dari BPBD Jatim. Padahal gak ada jalurnya dengan BPBD, karena ini murni dari masyarakat dan komunitas di Malang Raya," terangnya.

Sahlan membeberkan, pihak BPBD Sumut juga meminta relawan menunjukkan daftar isi dari kontainer yang dikirimkan. Selain itu, mereka juga diminta membayar Rp 1,2 juta per kontainer.

"Kalau ambil diminta tunjukkan manifest-nya, sama bayar Rp 1,2 juta per kontainer. Jadi total Rp 2,4 juta. Kita gak ada dana untuk itu," bebernya.

Sahlan mengaku, dua kontainer bantuan dari warga Malang Raya ini sudah tertahan hampir selama 4 hari ini. Ia mengungkapkan saat ini tengah dilakukan pertemuan antara relawan, BPBD Sumut serta PT Pelni untuk penyelesaian masalah ini.

"Sudah empat hari tertahan, sekarang ada pertemuan. Nanti hasilnya apa, akan kami sampaikan," tegasnya.

Sahlan menambahkan, mediasi kemudian digelar Pemprov Sumatera Utara dan BPBD setempat untuk penyelesaian masalah tersebut. Mediasi ini terjadi setelah adanya aksi protes dari relawan Malang Bersatu-Gimbal Alas terkait hilangnya dua kontainer bantuan yang hendak didistribusikan.

Menurut Sahlan pertemuan digelar di Gedung Serbaguna Pemprov Sumatera Utara. Di lokasi tersebut juga terdapat dua kontainer bantuan yang sebelumnya akan didistribusikan para relawan kepada korban bencana di wilayah Aceh.

"Ada beberapa kesepakatan dalam pertemuan itu. Termasuk membebaskan biaya operasional dua kontainer sebesar Rp 2,4 juta," ungkapnya.

Terpisah relawan dari Ikatan Pecinta Keindahan Alam (IPKA) Indrakila Malang, Mahardika Brilliandi turut dalam proses audensi menyampaikan, bahwa sejumlah menyatakan permohonan maaf terkait adanya miskomunikasi terkait distribusi bantuan yang digalang Relawan Malang Bersatu-Gimbal Alas dalam pertemuan tersebut.

"Pihak Pemprov Sumut, BPBD Sumut, PELNI. Sudah meminta maaf sebesar - besarnya kepada POSKO MALANG BERSATU dan berbenah untuk menjalankan tugas," ujar Mahardika mengutip salah satu poin kesepakatan dalam audensi.

Mahardika juga menyebut, biaya operasional yang sebelumnya dibebankan kepada Relawan Malang Bersatu sebesar Rp 2,4 juta untuk dua kontainer bantuan telah dihapus.

"Pihak PELNI, BPBD, serta Pemprov Sumut akhirnya membebaskan biaya operasional sebesar Rp 2,4 juta. Mereka juga mengakui adanya oknum yang tidak beres perihal administrasi, disinformasi dalam perintah mengawal barang bantuan bencana," katanya.

Mahardika turut menjelaskan, jika barang digalang dari donasi relawan Malang Bersatu akan dilakukan pendataan ulang. Karena barang-barang itu sebelumnya sudah tercampur dengan donasi dari beberapa wilayah lain. Setelah dua pintu kontainer dibuka oleh oknum BPBD Sumut.

"Barang Donasi dari Posko gabungan Malang sudah tercampur dengan donasi dari beberapa daerah lainya dan akan didata ulang sesuai manifest. Pihak Kepala Posko Pemprov Sumut akan bertanggung jawab dan mengganti barang yang hilang dan tertukar," bebernya.

Sementara distribusi bantuan juga bakal segera dilakukan, setelah tiba di wilayah Langsa, Aceh dengan bantuan BPBD Sumut.

"Saat tiba di posko induk Langsa, langsung kami sebar ke daerah-daerah terdampak yang membutuhkan," terang Mahardika.

Wilayah yang akan disasar meliputi Kec. Tamiang Hulu : Desa Rongoh, Desa Bandar Kalipah, Desa Perk. Pulau Tiga, Desa Kaloy, Desa Alur Tani 1, Desa Alur Tani 2, Desa Wonosari serta Kecamatan Bandar Pusaka: Desa Sunting, Desa Batang Ara, Desa Serba, Desa Sekumur di Kecamatan Sekerak.

"Sekarang posisi bantuan masih berada di gedung Serbaguna Pemprov Sumut," pungkasnya.

Sumber klik di sini

Posting Komentar

0 Komentar