Jakarta — Di tengah lumpuhnya fasilitas pendidikan akibat banjir dan longsor di Sumatra, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengambil langkah cepat yang menyentuh sektor krusial: pendidikan anak korban bencana. Megawati menyatakan akan membangun sekolah sementara berbentuk tenda agar para siswa tetap bisa belajar meski gedung sekolah mereka rusak atau hancur.
Instruksi itu disampaikan langsung Megawati saat memberi pengarahan kepada kader Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP di Jakarta International Equestrian Park (JIEP), Jakarta Timur, Jumat (19/12/2025).
“Yang diperlukan itu bukan sekolahnya dulu, tapi anak-anak didik itu masih bisa belajar. Jadi saya secara cepat akan membuat tenda di mana anak-anak itu bisa diajarkan,” tegas Megawati.
Sekolah Runtuh, Pendidikan Tak Boleh Berhenti
Megawati mengungkapkan, para kader di daerah terdampak telah diminta melakukan pendataan jumlah siswa dan kondisi sekolah. Langkah ini diambil untuk memastikan anak-anak korban bencana tidak tertinggal pelajaran dan tidak kehilangan hak pendidikan.
Ia menyoroti fakta bahwa sebagian siswa sudah menjalani ujian, sehingga keberlanjutan proses belajar menjadi penting agar mereka tidak dirugikan saat kenaikan kelas.
“Supaya mereka jangan ketinggalan. Kalau nanti ada ujian atau kenaikan kelas, kasihan dong. Masa mau dinaikkan begitu saja? Kan enggak mungkin,” ujarnya.
Soroti Ancaman Penyakit di Pengungsian
Selain pendidikan, Megawati juga menyoroti ancaman krisis kesehatan di lokasi pengungsian. Ia mengingatkan bahwa korban banjir rentan terserang penyakit, terutama diare dan infeksi pascabanjir.
Megawati mengaku telah menerima laporan terkait keterlibatan tenaga medis sukarela, meski tidak selalu mudah mendapatkan dokter di lokasi bencana.
“Saya dengar sudah ada tim dokternya. Biasanya yang datang itu yang sukarela. Yang penting ada, dan mau membantu,” kata Megawati.
Pesan Keras: Anak Bencana Jangan Jadi Korban Ganda
Gagasan sekolah tenda ini menegaskan sikap Megawati bahwa anak-anak korban bencana tidak boleh menjadi korban dua kali, kehilangan rumah sekaligus kehilangan masa depan.
Di tengah kritik publik soal lambannya pemulihan pascabencana, langkah ini dinilai sebagai tekanan moral kepada negara agar pendidikan tetap menjadi prioritas, bahkan dalam situasi darurat.
Bagi Megawati, bencana boleh merobohkan bangunan, tetapi tidak boleh merobohkan hak anak untuk belajar.

0 Komentar