Pengacara, Firdaus Oiwobo melontarkan pernyataan keras terhadap influencer Salim Dower yang dinilai telah melakukan ujaran kebencian terhadap Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana. Firdaus mendesak aparat kepolisian untuk segera menangkap Salim Dower atas ucapannya tersebut.
Ia secara terbuka meminta Presiden RI, Prabowo Subianto agar menginstruksikan Kapolri untuk menurutnkan Direktorat Kriminal Khusus (Krimsus) demi menangani kasus tersebut.
"Pak Prabowo, bapak presiden republik indonesia yang terhormat tolong instruksikan kepada bapak Kapolri untuk segera menurunkan krimsus karena si Salim Dower ini, sudah mengucapkan ujaran kebencian terhadap ibu menteri," katanya seperti dikutip dari TikTok-nya.
Ia menilai ucapan Salim Dower bukanlah bentuk kritik, tetapi penghinaan secara personal terhadap pejabat negara.
Ia menyoroti pernyataan Salim yang dinilai merendahkan seorang menteri yang tengah memberikan klarifikasi kepada publik.
"Bayangkan, ibu menteri yang klarifikasi terkait pertanyaan masyarakat, melalui media sosial dan itu haknya beliau ditolol-tololin sama si Salim Dower. Ini ujaran kebencian yang sudah jelas-jelas bukan kritikan," katanya.
Selain itu, ia bahkan menyebut akan membuat laporan resmi ke kepolisian apabila tidak ada langkah hukum yang diambil.
"Kalau bapak enggak berani, berarti bapak mental ciut dan enggak punya nyali. Polisi Indonesia enggak punya nyali, ganti sama hansip," ujarnya.
Polemik ini berawal ketika Salim Dower menanggapi pernyataan Menteri Pariwisata Widiyanti Wardhana.
Sebelumnya, ia menanggapi klarifikasi sang menteri terkait menurunnya jumlah wisatawan lokal di Bali yang disebut disebabkan oleh informasi cuaca buruk sehingga wisatawan memilih berlibur ke sejumlah daerah di Jawa.
Salim berkomentar dengan melontarkan kata-kata bernada kasar dan merendahkanyang kemudian menuai kecaman luas dari publik.
Pernyataan Menpar Widi
Kunjungan wisatawan domestik ke Bali tercatat mengalami penurunan di tengah lonjakan wisatawan mancanegara (wisman) pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Kementerian Pariwisata menilai derasnya informasi soal cuaca, serta sejumlah faktor lain, memengaruhi keputusan pelancong domestik untuk tidak berlibur ke Pulau Dewata.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan penurunan jumlah wisatawan somestik ke Bali bukan disebabkan oleh melemahnya daya tarik destinasi.
Kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh persepsi publik terhadap cuaca dan munculnya pilihan destinasi alternatif.
Berdasarkan data terbaru yang diterimanya, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali justru terus meningkat.
Hingga saat ini, kunjungan wisman telah mencapai 6,8 juta orang dari target 7 juta hingga akhir periode.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa Bali masih menjadi magnet utama bagi turis asing. Namun kondisi berbeda terjadi pada wisatawan domestik.
Widiyanti mencatat kunjungan wisatawan domestik ke Bali memang sedikit menurun.
Ia menilai, hal itu kemungkinan besar dipicu oleh gencarnya pemberitaan dan informasi di masyarakat mengenai cuaca yang dinilai kurang mendukung untuk liburan ke Bali, serta faktor lain yang mempengaruhi preferensi perjalanan.
“Mengenai Bali, jadi kami sudah mendapatkan data bahwa wisatawan mancanegara tetap meningkat, sekarang 6,8 juta tapi targetnya mencapai 7 juta. Tapi memang wisatawan nusantaranya sedikit menurun mungkin dikarenakan gencarnya informasi bahwa cuaca kurang baik dan juga hal yang lain ya,” ujar Widiyanti saat ditemui di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025) dikutip dari Kompas.com.
Wisatawan domestik yang tidak memilih Bali pada periode libur Nataru 2025/2026 cenderung mengalihkan tujuan liburan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Pergerakan wisatawan domestik terlihat lebih banyak menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta Yogyakarta.
Bahkan, Yogyakarta mencatat peningkatan kunjungan yang cukup signifikan. Pergeseran ini menunjukkan bahwa wisatawan domestik tetap aktif bepergian, hanya saja memilih destinasi yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi dan preferensi mereka saat ini.
“Jadi mereka berjalan-jalan di Jawa kebanyakan Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Yogyakarta. Yogyakarta terlihat ada peningkatannya luar biasa,” paparnya. Meski demikian, Widiyanti menegaskan Bali tidak dalam kondisi sepi. Aktivitas pariwisata di Pulau Dewata tetap ramai, dengan penurunan kunjungan wisatawan domestik yang relatif kecil, yakni sekitar 2 persen.
“Nah tapi Bali tidak sepi, tetap ramai, tapi hanya ada penurunan sedikit saja sekitar 2 persen,” beber Widiyanti.
Sumber klik di sini
0 Komentar