Jakarta — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan Indonesia tidak boleh lagi berjalan lambat dalam agenda kemandirian teknologi antariksa. Target nasional yang selama ini dipatok hingga 2040 dinilai masih sangat mungkin dipercepat, termasuk pembangunan bandara antariksa nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Arif saat kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Rabu (31/12/2025). Kunjungan itu menyoroti kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran Satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi Indonesia.
Menurut Arif, dinamika global dan percepatan teknologi antariksa menuntut Indonesia bergerak lebih agresif dan terukur. Ketergantungan pada peluncuran dari luar negeri dinilai tidak sejalan dengan visi kedaulatan nasional.
“Kalau kita fokus, produktif, dan tidak saling tumpang tindih, target kemandirian antariksa tidak harus menunggu 2040,” tegas Arif.
Salah satu proyek kunci yang disorot adalah pengembangan Bandar Antariksa Biak, Papua. Lokasinya yang dekat dengan garis khatulistiwa memberikan keuntungan teknis berupa efisiensi energi peluncuran, sekaligus membuka peluang kerja sama internasional.
Namun Arif menekankan, percepatan antariksa tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik. Tata kelola, pembagian peran antarinstansi, serta integrasi kebijakan lintas kementerian menjadi tantangan utama yang harus diselesaikan.
“Kita tidak boleh terjebak pada ego sektoral. Sistem harus terintegrasi,” ujarnya.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menambahkan bahwa rencana pembangunan bandar antariksa sebenarnya telah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017–2040. Namun, perkembangan teknologi global yang jauh lebih cepat membuat sejumlah target perlu dievaluasi ulang.
“Renduk dievaluasi tiap lima tahun. Banyak strategi yang perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif,” jelas Rika.
BRIN juga mendorong peningkatan kualitas dan produktivitas riset, termasuk pemanfaatan hibah internasional, agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi antariksa, melainkan produsen dan pelaku utama.
“Tidak ada negara yang berjaya di antariksa dengan kerja setengah-setengah,” pungkas Arif.

0 Komentar