Islah Bahrawi Sebut Prabowo “Pikun”, Serukan Harus Turun dari Kekuasaan


Pernyataan kontroversial disampaikan oleh Islah Bahrawi dalam tayangan di kanal YouTube Gerpol TV. Dalam pernyataannya, ia secara terbuka menyebut Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan kemampuan kognitif, bahkan menggunakan istilah “pikun”, serta menyerukan agar turun dari kekuasaan.

Islah menilai kondisi politik Indonesia saat ini menunjukkan gejala yang mengarah pada praktik kekuasaan yang menekan. Ia merujuk pemikiran Ibnu Khaldun yang menyebut bahwa kekuasaan yang dibangun dengan ketakutan justru akan melahirkan perlawanan dari rakyat.

“Semakin keras seorang pemimpin menekan rakyatnya, maka semakin besar keberanian rakyat untuk melawan,” ujarnya.

Soroti Ekonomi dan Tekanan Rakyat

Selain kritik politik, Islah juga menyinggung potensi tekanan ekonomi ke depan. Ia memperkirakan adanya kenaikan harga BBM dan bahan pokok, serta dampak fenomena El Nino yang bisa memperparah kondisi masyarakat.

Ia juga menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, termasuk ringgit Malaysia. Menurutnya, kondisi ini menjadi indikator menurunnya daya saing ekonomi Indonesia.

Singgung Informasi Istana

Dalam pernyataannya, Islah mengaku sempat dihubungi pihak istana terkait kritik yang ia sampaikan. Ia menyarankan agar Presiden lebih fokus pada pemulihan pascabencana, khususnya di Aceh, bukan sekadar kegiatan simbolik.

Namun, ia menilai masih ada ketidaksesuaian antara informasi yang diterima pemerintah dengan kondisi di lapangan, terutama terkait pengungsi.

Sebut “Pikun” dan Serukan Turun

Puncak kritik Islah terlihat saat ia menyebut Presiden mengalami demensia.

“Menurut saya Prabowo ini demensia. Dia sudah pikun,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut berdampak pada arah kebijakan negara. Bahkan, ia menyatakan bahwa satu-satunya cara menghentikan situasi yang ia sebut sebagai “teror kekuasaan” adalah dengan turunnya Prabowo dari jabatan.

“Kalau kita bicara Indonesia, yang bisa menghentikan teror itu adalah tumbangnya Prabowo. Tidak ada pilihan lain,” tegasnya.

Tegaskan Bukan Ajak Makar

Meski pernyataannya keras, Islah menegaskan bahwa dirinya tidak mengajak tindakan makar. Ia merujuk konsep pemikiran Francis Fukuyama dalam The Origin of Political Order, bahwa sumber keteraturan politik berasal dari kepemimpinan yang kuat dan bertanggung jawab.

Namun menurutnya, kondisi saat ini justru memperlihatkan adanya tekanan yang berasal dari struktur kekuasaan.

Klaim Intimidasi dan Ancaman

Islah juga mengungkapkan bahwa dirinya mengalami intimidasi akibat sikap kritisnya. Ia mengaku harus memindahkan keluarganya ke luar negeri demi keamanan, serta merasa terus diawasi.

Meski demikian, ia menegaskan akan tetap bersuara.

“Saya akan terus menyuarakan ini selama saya masih hidup,” ujarnya.

Yakin Akan Terjadi Perubahan

Di akhir pernyataannya, Islah menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan akan terjadi, termasuk kemungkinan turunnya Presiden dari jabatan.

Ia menyebut hal itu bisa terjadi melalui kesadaran sendiri maupun dorongan dari dinamika masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar